Ini pertama kalinya saya mengikuti pemilu legislatif, sebenarnya saya sudah pernah mengikuti pemilu, namun pemilu gubernur DKI Jakarta. Disini lah tempat saya mencoblos,
Tps 25 di Jl. Jatipadang Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sesuai dengan surat pemanggilan untuk melakukan pemilu. Tempatnya cukup sejuk karena tepat berada dibawah pohon-pohon yang rindang, juga terletak disalah satu tanah/kebun milik warga.
Suasana pemilu dapat dikatakan tertib dan tidak terlalu ramai, entah saya yang datang terlalu siang (waktu ditetapkan pukul 07.00 sampai 13.00, saya datang pukul 11.00) ataupun banyak yang tidak memilih untuk berpartisipasi, ataupun belum datang untuk berpartisipasi mengingat habit warga Jakarta dengan jam karet dan gemar bermalas-malasan dirumah dikala panas terik. Saya dapat nomor urut 205, ketika saya datang yang dipanggil sudah nomor urut 198, termasuk sepi bukan?
![]() |
(saya sedang mencoblos.) |

Ternyata, ada suatu permasalahan yang menurut saya sangat disayangkan.
Ada suatu miskomunikasi antara golongan pemilih yang menggunakan kartu
identitas KTP untuk menggunakan haknya sebagai pemilih atau DPTKB di
wilayah TPS 25, dengan panitia pemilu, dan juga ketua RT setempat.
Panitia pemilu menetapkan jam 12-00 s/d 13.00 sebagai waktu giliran
golongan DPTKB, namun ketua RT setempat mengabarkan jam 13.00 baru mulai
boleh para golongan DPKTB untuk menggunakan hak pilihnya, sehingga
banyak pemilih golongan DPKTB terlambat datang dan tidak bisa mengikuti
pemilu. Sangat sangat disayangkan karena satu suara benar-benar berarti
bagi kemajuan bangsa ini.
Setelah dilansir, data menunjukkan bahwa
terdapat 469 pemilih yang terdaftar untuk menggunakan hak pilihnya di
tps 25, namun yang datang untuk menggunakan hakpilihnya hanya 317 orang,
laki-laki 139 orang, perempuan 165 orang, untuk yang terdaftar,
sementara yang menggunakan DPTKB, laki-laki berjumlah 6 orang, dan
perempuan berjumlah 7 orang. Sementara surat suara dari kpu pusat yaitu
479 kertas masing-masing dpr, dprd, dan dpd. Ini berarti ada 162 surat
suara yang tidak terpakai.Kemudian setelah lumayan lama menunggu hasil dari penghitungan suara di tps 25, partai Demokrat mendominasi suara. Saya tidak heran, karena, ketua RW setempat adalah tim sukses partai tersebut, dengan intensitas ia berkampanye, maka warga juga semakin familiar dengan partai Demokrat, apalagi ada caleg dari partai Demokrat yang mengandalkan uang supaya warga memilihnya, maklum, tempat saya tinggal banyak warga-warga kampung belakang yang lemah perekonomiannya dan rendah latar belakang pendidikannya, sehingga tidak bisa cerdas dalam memilih dan mementingkan uang semata atas dasar kebutuhan.
Ara, Jakarta, dalam rangka tugas mata kuliah Propaganda Dan Opini Publik, 2014.